02 Januari 2008

Faktor non-ekonomi (menambahi MCB, ARS, AP) - AAP


Membaca diskusi tentang faktor non-ekonomi (MCB, ARS, dan AP), saya teringat kepada sebuah landasan berpikir yang pernah saya gunakan untuk sebuah paper. Saya coba tampilkan di sini (klik gambar di sebelah untuk memperbesar).

Salah satu alat analisis ekonometrik yang lebih fleksibel dalam memperlakukan keputusan agen ekonomi adalah choice modeling. Dalam perkembangannya sekarang alat ini mengintegrasikan teori pilihan dasar dari ilmu ekonomi dan teori perilaku dari ilmu psikologi. Implikasi praktisnya di lapangan adalah dimungkinkannya data-data survei yang bersifat atitudinal dan persepsi ke dalam model. (Catatan: ekonom cenderung lebih percaya data historis berdasarkan observasi ketimbang data subjektif berdasarkan survei. Namun ada saat-saat di mana data historis objektif tidak ada sama sekali. Hal ini jamak terjadi dalam sub-bidang ekonomi lingkungan, ekonomi kesehatan, dan lain-lain). Kedua sumber informasi ini membentuk apa yang disebut oleh D. McFadden sebagai data psikometrik. Gambar di atas adalah proses keputusan konsumen yang diadopsi dari paper McFadden di Marketing Science tahun 1986. Kotak-kotak yang putih dalam gambar menunjukkan faktor-faktor yang dapat diamati (baik historis maupun melalui eksperimen), sedangkan kotak-kotak berbayang adalah apa yang disebut variabel laten. Kerangka berpikir ini memungkinkan kita untuk mengakomodasi heterogenitas konsumen yang ikut berpengaruh dalam perilaku pilihan mereka, selain faktor-faktor ekonomi semata. Operasi modelnya biasanya dilakukan dengan apa yang dikenal sebagai latent segmentation modeling. Di sini, faktor-faktor "lain" (termasuk "faktor non-ekonomi" jika risetnya adalah ekonomi) di-"perbolehkan" untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan agen-agen yang diamati.

Teknik ini sudah biasa dipakai di sosiologi (a.l. Eid, Langeheine, dan Diener, 2003; Yamaguchi, 2000), studi opini publik (McCutcheon dan Nawojcyzk, 1995), dan relatif baru di dalam aplikasi ekonomi (ekonomi kesehatan: Thacher, Morey, dan Craighead, 2005; ekonomi lingkungan: Boxall dan Adamowicz, 2002). Saya sendiri menggunakannya untuk mengestimasi manfaat ekonomi dari pembersihan lingkungan di sebuah pelabuhan terkontaminasi di Chicago, AS (Patunru, Braden, dan Chattopadhyay, 2007). Dalam paper tersebut, saya "meminjam" peralatan yang dibangun para ilmuwan dari psikologi, sosiologi, dan matematika. Dan memang mereka sangat membantu memperkaya analisis biaya-manfaat. Pada akhirnya, rekomedasi kebijakan (jika ada) adalah hal memperbandingkan manfaat dan biaya.

40 komentar:

Anonim mengatakan...

Faktor Non Ekonomi Lagi

Menarik sekali posting dari Sonny. Sonny lebih berani menjelaskan dimana posisi "faktor non ekonomi". Teori-teoril ilmu sosial: sosiologi, antropologi atau psikologi berintegrasi ke dalam teori-teori dasar ilmu ekonomi. Begitu pula Aco menintegrasikan teori prilaku dalam psikologi kedalam teori ilmu ekonomi disertasinya. Ape terlihat memposisikan variabel non-ekonomi sebagai control/contraint/endogeneous variables dalam model ekonomi. Sementara MCB dan Rizal mengelompokan faktor ekonomi dan "faktor non ekonomi" dalam kotak terpisah dalam analisis. Dan berpesan, jangan terburu-buru menyebut faktor non-ekonomi sebagai pejelasan dari suatu masalah. Mudah-mudahan saya tidak salah menarik benang merah perdebatan ini. Mohon dikoreksi jika salah.

Saya sendiri sebetulnya dalam posisi menempatkan variable "non-ekonomi" sebagai control variable, dan sedang berusaha mengintegrasikan variable tersebut kedalam model ekonomi. Research project PhD saya tentang corporate governance. Singkatnya game antara managers dan shareholders, tapi saya memasukan variable "non ekonomi", semisal: kultur, demografi, ethnic, hukum atau politik. Analisis dilakukan secara multilevel: ditingkat individu, group, firm dan negara. Saya bekerja di departemen management dan berlatar belakang economics (industrial organization/game theory)

Perdebatan ini bisa dipolarisasikan kedalam dua kutub mentodologi ilmu, dimana ilmu ekonomi lebih menggunakan metode perpikir positivism (Friedman, 1966), seperti dipaparkan Rizal. Sementara ilmu sosial lain menggunakan metode berpikir realism, dimana ilmu diperoleh berdasarkan pengalaman dan bukti-bukti empiris.

Kita juga bisa menarik perdebatan ini kedalam filosofi ilmu masing-masing. Ilmu ekonomi (terutama Chicago School) sejak era marginalism sepertinya berusaha menjadi “hard science”, seperti: ilmu fisika, dengan tingkat abstraksi yang tinggi dan berorientasi prediksi. Tingkat abstraksi yang tinggi diperlukan agar semua hal dapat dikuantifisir dan diselesaikan dengan logika matematika. Contoh pengabstraksian ini adalah konsep utility, human capital, price equlibrium atau full-employment.

Sementara ilmu sosial lain (sosiologi, psikologi atau antropologi) lebih fokus pada pemahaman (understanding) akan human behaviour dan sedikit saja berorientasi prediksi. Tak heran kemudian Friedman (1966. p 4) berkata the more significant theory, the more unrealistic assumption. Atau, seperti kata Samuelson (1962, p322-3): teori dinilai dari kemapuannya memprediksi bukan dari apakah asumsinya realistis atau tidak.

Ilmu ekonomi yang seperti ini memang banyak menuai kritik tertama dari kalangan ilmuwan sosial lainnya karena banyak variabel-variabel yang jadi perhatian merupakan methaphor (McCloskey 1983, 1985). Tingkat abstraksi yang sangat tinggi sangat beresiko semakin jauhnya variable tersebut dari realita Thompson (1997) menyebutnya sebagai “Fallacy od Misplaced Concreteness”. Sebagai contoh: dapatkan kita menyebut berapa equilibrium rupiah terhadap US dolar sekarang? Atau, pada saat pertumbuhan ekonomi berapa kondisi full employment tercapai sekarang?. Saya jadi teringat ketika Pak Anwar ditanya banyak wartawan tentang equilibrium rupiah/dolar saat awal-awal gejolak kurs. Dia menjawab “Bah…. mana aku tahu…. kalau aku tah sudah kaya aku”*). Terlepas kata Pak Anwar…, tentu kita bisa memprediksi equilibrium kurs atau full employment. Tapi, setelah kita menyadari tingginya abstraksi konsep-konsep ilmu ekonomi, apakah kita bisa mengkonfirmasi equilibrium hasil prediksi sebagai suatu equilibrium realita equlibrium di pasar?

Saya juga jadi teringat Dani Rodrik didalam blognya**): untuk memprediksi kurs lebih baik meluangkan waktu untuk melakukan tossing a coin daripada ngambil PhD financial economics …  Dia, mengutip koleganya, mungkin perlu memasukan hal-hal yang disarankan behavioral economics.

Kritik yang gencar terhadap ilmu ekonomi memang tidak menurunan kredibiltas ilmu ekonomi. Tapi, sedikit-banyak menyadarkan pentingnya pengintegrasian ilmu ekonomi dengan ilmu sosial lainnya. Dan, membuat ilmu ekonomi yang lebih berwarna ilmu sosial daripada terus terobesesi menjadi sebuah hard science.

Pentingnya ilmu ekonomi mengintegrasikan teori-teori ilmu-ilmu sosial lain kedalam ilmu ekonomi bisa dikatakan mendapat pengakuan sejak Kahanemann yang seorang psikolog mendapatkan Nobel Prize tahun 2002. Saya pikir kedepan ilmu ekonomi akan lebih bernuansa lebih sebagai ilmu sosial. Dialektika ilmu ekonomi dengan metode berpikir positivism dan ilmu sosial lain dengan metode berpikir realism, mungkin akan menghasilkan ilmu ekonomi yang memiliki nilai lebih. Dalam konteks Indonesia mungkin akan sangat berguna.

Dendi Ramdani
Antwerpen, Belgium

*) Diceritakan Siswa Rizali dulu di saat-saat awal krisis ekonomi.
**) http://rodrik.typepad.com/dani_rodriks_weblog/2007/11/is-a-science-of.html

Friedman, Milton (1966)."The Methodology of Positive Economics" In Essays In Positive Economics. (Chicago: Univ. of Chicago Press, 1966), pp. 3-16, 30-43.

McCloskey, Donald N. (1983) the Rhetoric of Economic. Journal of Economics Literature, Vol 21, p 481-517

McCloskey Donald N. (1995) Modern Epistimology Against Analytic Phylosophy: A Reply to Maki. Journal of Economics Literature, Vol 33, p 1319-1323

Samuelson, Paul A. (1963) “Discussion,” American Economic Review 53(2), 231-236.

Thompson, H Edward (1997) the Fallacy of Misplaced Concreteness: its Importance for Critical and Creative Inquiry. Interchange, Vol 28/2&3, 219-230

Aco mengatakan...

Dendi, terima kasih atas commentary dan informasi yang sangat penting ini.

Sekaligus juga buat yang lain (Sonny dan Roby), kalau boleh saya mewakili teman-teman di sini (dan mudah-mudahan bacaan saya benar), sebenarnya inti dari tulisan MCB adalah kami seringkali kecewa dengan teman-teman ekonom sendiri yang saban kali "menyerah" kepada problem (dalam konteks analisis) yang dihadapi dan lalu berkata "ini urusan sosial" atau "politik" atau "budaya", dan sebagainya. Kami melihat itu sebagai ketidakberdayaan.

Padahal, menurut kami yang harus dilakukan adalah berusaha menjawab itu, sekalipun dengan mencoba meminjam peralatan dari disiplin ilmu lain, yang memang telah terbukti bisa melengkapi kekurangan di ilmu ekonomi. Bukannya malah berkata "soal ini bukan isu ekonomi, sehingga solusinya harus menunggu sosiolog, ahli politik, budayawan, dsb". Atau yang juga sering terjadi adalah ekonom yang mengejek ilmu ekonomi sendiri, hanya karena dia gagal menjelaskan sesuatu atau malas mencari tahu dari disiplin lain. Misalnya dengan mengatakan "kemiskinan tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi", tapi lalu berhenti di situ, karena "ini urusan budaya".

Tentu saja ada batasnya. Di sini, kami berhati-hati sekali ketika sudah berbicara normatif. Kami sadar bahwa keunggulan komparatif ilmu ekonomi adalah di sisi positif, relatif terhadap normatif.

Akhirnya, kami perlu tekankan lagi bahwa ya, kami meminjam kiri-kanan dari disiplin ilmu lain, tapi kami lalu mengawinkannya dengan kerangka ilmu ekonomi neoklasik (di sini termasuk analisis biaya-manfaat, game theory, permintaan-penawaran, dsb). Itu yang kami lakukan di sini.

Anonim mengatakan...

Dendi Terima kasih untuk tambahan informasi.

Rizal Mungkin kita ngga perlu nunggu sampe Kuhn datang, bagi sebuah scientific revolution, untuk mulai melihat dengan sedikit lebih kritis atas pendekatan yang kita pakai selama ini. Ngga apa-apa juga, kalaupun itu baru sedikit-sedikit seperti saran Rizal.

Seperti saya tulis, ada kondisi atau setting di mana model self-interested punya daya prediktif lebih baik. Ini masih bisa dipertahankan. Mungkin pula tidak perlu di"kawinkan" dengan pendekatan lain. Ilmu ekonomi yang "positif" pun tetap punya kontribusi.

Soal super scientist, tidak mesti menjadi seperti yang Rizal bayangkan. Dalam ilmu ekonomi, Daron Acemoglu, untuk menyebut satu contoh, tidak perlu menjadi political scientist untuk memroduksi karya ekonomi-politik yang inovatif. Ia bekerja dengan political scientist. Karya-karya yang saya kutip, adalah karya di mana ekonom bekerja sama dengan antropolog, sosiolog, dll. Menekankan pada divisi kerja, seperti ekonom tetaplah sebagai ekonom, adalah soal pilihan. Tiap-tiap punya untung rugi, potensi dan batas. Perhatikan ketika Ari Perdana menulis. Cara dia memilih dan memperlakukan literatur, perspektifnya relatif lebih kaya dan memikat, relatif atas mereka yang bacaannya ekonomi doang, atau yang membaca Yang Lain sekadar iseng atau pengisi waktu. Tentu, soal potong-jari-sebagai-insentif milik Ari itu, perlu diskusi yang lain :)

Aco, terima kasih untuk tanggapan plus soal ketakberdayaan para ekonom tersebut. Terobosan-terobosan yang dicapai ilmu ekonomi, mestinya bikin para ekonom berbangga. Untuk dapat menikmati terobosan-terobosan semacam itu, kita perlu rendah hati dan terbuka. Tidak memaksakan diri.

Selamat Tahun Baru untuk semua.
Sonny

a.p. mengatakan...

Son -- yang punya ide potong jari itu Aco, bukan saya. Dia memang lebih galak kok dari saya orangnya... :-)

Ki Joko (komentar di posting yang lain) -- sebenarnya nggak benar juga kalau ekonom tidak membaca sejarah, politik, sosiologi dll (lihat posting saya). Tapi jadi serba salah. Kalau ekonom tidak menyinggung aspek non-ekonomi, dibilang 'berpikiran sempit.' Kalau coba membuat analisis yang multidimensi, dibilang imperialis (spt dialami Becker), atau dianggap sebelah mata oleh orang2 kedokteran (seperti dialami Emily Oster).

Aco mengatakan...

Son, Pe', ada apa? Siapa yang mau dipotong jarinya? Hahaha.

Anonim mengatakan...

Aco Soal jari itu....hahaha.

Sekalian nanya deh. Menggunakan struktur insentif, kebijakan seperti apa yang kira-kira optimal buat para pemotong jari? :)

Aco mengatakan...

Son, kalau objective-nya (deterrence effect) tidak tercapai maka si pemotong jari dipotong telinganya sedikit demi sedikit. How about that? :-)

Ngana di mana, jo?

Anonim mengatakan...

Aco Hush ... jangan buka-buka rahasia gitu dong. Ntar ketahuan gua dari kampung...hehehe. Btw, MCB dulu, waktu masih culun, pernah main ke kampung gua, ngumpulin data cengkih buat analisa BPPC.

Soal potong telinga kecil-kecil. hahahaha. APE emang betul: kau lebih galak rupanya. Termasuk fantasinya.

Pendapat saya: Kalo interaksi antara pemotong jari dan pemotong telinga (a) berstruktur tit-for-tat, (b) intervensi pihak ketiga ngga ada, dan (c) strategi motong kuping dan motong telinga adalah perfect equilibrium, maka permainannya berhenti pas kuping yang mau dipotong udah abis, atau ngga ada jari lagi yang tersisa but motong kuping. ...hehehe.

Kalo gitu, aku milih jadi yang bergerak duluan deh :)

Roby mengatakan...

Hmm kayaknya ada masalah baru. Saya percaya ilmu sosial harus positivis. Tapi saya - lagi2- keberatan kalau positivis diidentikkan dengan analisa dalam kerangka neoklasik. Malah saya pikir analisa budaya pun bisa dibuat positivis (saya identikkan positivisme dengan pengukuran; dan saya melihat ini semua sebagai basic science).

Sepertinya inti perbedaan saya dengan kawan-kawan disini adalah sbb:

Kalian (maaf generalisasi): ayo kita terapkan analisis insentif pada sebanyak mungkin masalah.

Saya: masalah seperti apa yang tidak cocok memakai analisis insentif? mekanisme pengambilan keputusan apa lagi yang ada selain insentif? apa yang terjadi jika insentif fungsi dari struktur? apa yang terjadi jika kita masukkan berbagai bias individu?

Saya akui salah mengerti membaca postingan original MCB. Tapi karena ini blog publik dan tidak disebutkan secara eskplisit bahwa posting tertuju khusus pada ekonom yang malas, jadi saya loncat. Mungkin seharusnya saya memberikan benefit of the doubt pada MCB. Tapi jika demikan, jadinya adem-ayem sambil senyum2 tanpa diskusi yang ramai :D

Aco mengatakan...

Roby you read me wrong again. Waktu saya bilang "[K]eunggulan komparatif ilmu ekonomi adalah di sisi positif relatif terhadap normatif", kedua sisi itu adalah sama-sama dalam pendekatan ekonomi. Itu sama dengan mengatakan bahwa Roby tahu tentang fisika dan juga tahu tentang sosiologi. Tapi selalu ada satu sisi di mana Roby lebih "kuat". As simple as that.

Betul ada ekonom-ekonom yang lebih suka bicara normatif ketimbang positif. Tapi seringkali jadi kewalahan sendiri (atau kedodoran, tanpa mereka sadari), karena ilmu ekonomi memang bukan itu forte-nya -- setidaknya itu yang kami percayai di sini. Kemungkinan lain, bicara normatif lebih disukai karena lebih populis.

Aco mengatakan...

Son, isu ini (mekanisme insentif untuk pencegahan kejahatan) semakin menarik. Saya akan coba buat posting khusus untuk ini. Tapi intinya, "potong jari" dan "potong telinga" secara "sedikit demi sedikit" itu bisa diganti apa saja. Orang yang suka modeling mungkin akan langsung pakai X dan Y, dengan perubahan marginal.

n/b. Torang juga dari kampung jo :-)

dede mengatakan...

Sonny, benar saya ke Sulawesi Utara sekitar 16 tahun lalu untuk survey dampak BPPC terhadap cengkih. Menyedihkan sekali waktu lihat dampaknya. Waktu itu dimana Son? Buat saya pengalaman yang bagus sekali waktu mengumpulkan data disana. Good old days :-)

Rizal mengatakan...

Sonny saya setuju soal "jangan maksa". Ketika membaca risalah filsafat misalnya, saya kira lebih baik untuk rendah hati membacanya sebagaimana ilmu filsafat (as is)--termasuk mengakui, misalnya, kegagalan saya untuk mengerti bahasa Derrida, yang menurut saya amat "acak adul" itu :-).

Tetapi ketika bekerja sebagai ekonom, saya rasa saya harus sejauh mungkin melakukan aplikasi metodologi ilmu ekonomi. Sikap skeptis dan kritis dengan dosis yang sehat, tentu bermanfaat.

Tetapi toh ini tidak mudah, sebab ketika dihadapkan pada situasi saya tidak berhasil menjelaskan sebuah persoalan ekonomi, kemungkinannya ada dua: (1) saya tidak cukup berhasil mengerti dan menggunakan alat analisa dengan semestinya, atau (2) ada yang salah di dalam pendekatan/metodologi yang saya pakai --lantai dansa nya yang salah, menyitir MCB

Dengan keterbatasan saya, kemungkinan pertama punya probabilitas yang jauh lebih besar dari yang kedua. Proyek "dekonstruksi" mungkin masih agak jauh, apalagi pada waktu masih setengah mati mencoba memahami yang "standar" seperti sekarang ini:-).

Anonim mengatakan...

pertanyaan roby menarik sekali, dan saya rasa belum terjawab: masalah apa -- menurut rekan-rekan ekonom -- yang tidak cocok dianalisa dengan kerangka pikir berdasarkan insentif?

Anymatters mengatakan...

Menurut saya faktor non-ekonomi cuma menambahkan noise dan deviasi saja, lebih baik dilupakan dalam model pasar.

Cthnya, kejanggalan dalam perilaku ekonomi di pasar terkoreksi sendiri ketika individu kembali ke kesadaran uangnya apakah dia seseorang yg berkekurangan atau yang berkelebihan. Hari ini orang boleh beli barang mahal utk gengsi dpn orang lain, tapi besok berusaha tdk keluar rumah utk penghematan. Pria-wanita, bule-asia, tua-muda sbnrnya sama saja dan mengerti dlm menentukan barang mana yg pas harganya. Isu lingkungan akhirnya bisa dipecahkan dengan restribusi. Isu etika dlm pemilihan investasi akhirnya dilupakan jika tingkat returnnya negatif. Isu bunga akhirnya dipecahkan dgn metode bagi hasil yg sebenarnya kuantitatif juga tp linear. Dalam menghadapi masalah hukum, orang akhirnya mempertimbangkan biaya legal yg akan dikeluarkan. Isu keserakahan pd dasarnya bersumber dari kesempatan dan ruang yg lebih besar untuk meraup keuntungan dan akan berhenti jika sudah maksimum. Sentimen pasar selalu berhenti oleh optimisme bahwa dalam jk panjang ada faktor stokastik yg selalu membawa harga/nilai ke atas. Depresi pasar dulu baru depresi individu, jarang ada depresi individu mengakibatkan depresi pasar. Dalam sejarah dunia, semua bangsa pd hakekatnya maju dan berkembang.

Kesimpulannya mungkin ilmu ekonomi itu sendiri ilmu pasti yg tidak perlu faktor2 non-ekonomi. Kecuali faktor teknologi untuk kemajuan ekonomi.

[sorry pembahasannya kurang akademik, jd cuma intuisi ga ada referensi]
To all, wishing you a prosperous year of 2008.

Anonim mengatakan...

Anymatters,

Anda kan cuman di pasar duit mainnya, maka mirip katak dalam tempurung.

Aco mengatakan...

Tirta/Roby: "Masalah apa -- menurut rekan-rekan ekonom -- yang tidak cocok dianalisa dengan kerangka pikir berdasarkan insentif?"

Sepanjang pengetahuan saya (yang mungkin tidak cukup panjang), tidak ada.

Anymatters: Happy new year! Komentar Anda sangat intriguing. Let's continue on that sometime.

Anonim: Sebaiknya Anda menggunakan identitas yang jelas (sekalipun samaran) agar kami bisa mengikuti alur pikir Anda dan tidak mencampurkannya dengan anonim-anonim lain nantinya.

a.p. mengatakan...

Tirta -- semakin saya berpikir, semakin saya sampai pada jawaban Aco: tidak ada. Isunya lebih pada "insentif spt apa" (yang lebih relevan dalam menjelaskan sebuah kasus).

Anonim mengatakan...

aco dan a.p. berpendapat bahwa segala perilaku dapat dijelaskan dengan insentif. masalahnya adalah 'insentif yang seperti apa'.

ini problematik bagi saya, karena jika konsep insentif itu sendiri tidak dipaparkan dengan jelas dimuka, maka binatang apapun dapat dijustifikasi sebagai insentif, posteriori.

jika perilaku apapun yang teramati diasumsikan memiliki insentif tertentu, berdasarkan fungsi utilitas tertentu, lalu bagaimana falsifikasinya?

Anonim mengatakan...

Tidak memberikan insentif juga termasuk kategori insentif :-). Insentif juga tidak harus monetary insentif atau material insentif.

Contoh, sering ada anekdot kenapa orang Indonesia kalau di luar negeri patuh (contoh kecil: dalam hal membuang sampah). Tapi, kalo di Indonesia sendiri "urakan". Jawabnya, karena tidak patuh di luar negeri terbayang sangat costly sementara orang lain patuh. Costnya, paling tidak merasa malu kalo buang sampah sembarangan dilihat orang. Ini adalah bentuk disinsentif.

Hal ini tidak terjadi di Indonesia karena norma tidak jelas dan aturan tidak ditegakan. Ini sih yang sering saya rasakan sekarang... he..he...he...

Anymatters mengatakan...

Halo anonim, membaca komentar Anda saya jadi seperti cacing kepanasan. Tapi apa yang saya alami sekarang sudah seperti ikan dalam belanga sehingga komentar Anda tidak perlu menjadi seperti duri dalam daging bagi saya. Seperti belut jatuh ke lumpur saya tidak perlu seperti berkain tiga hasta.

Wah faktor bahasa perlu juga ditambahkan ke faktor non-ekonomi, agar faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi seperti raja dengan menteri ;)

Anonim mengatakan...

Tirta Pertanyan anda menohok soal. Mungkin perlu diperjelas, bahwa insentif tidak mesti berbentuk nominal uang, tapi bisa aspek "non-ekonomi" semisal reputation building, warm glow, dst. Untuk price incentive, dalam tanggapan saya atas MCB, saya menyebut crowding out effects – bahwa insentif seperti ini malah mengurangi supply. Misalnya pendonor darah yang dibayar, malah tidak mau mendonor. Contoh serupa digunakan pula oleh Levitt, penulis Freakanomics, dengan mengacu riset kontroversial Gneezy/Rustichini (GR) di sebuah tempat penitipan anak di Israel (Journal of legal studies 19, 2000). Riset GR mungkin juga pantas jadi acuan buat Aco dan AP terkait detterence effect. GR mematahkan anggapan, bahwa penggunaan penalti – ceteris paribus – mengurangi perilaku yang disasar penalti itu. Dalam studi mereka, setelah mekanisme insentif dikenalkan, jumlah orang tua yang terlambat menjemput anaknya malah meningkat. (Saya menyebut kontroversial, sebab data mereka tidak bisa direplikasi, ketika diminta ekonom Ariel Rubinstein).

Riset Bruno Fehr, Oberholzer-Gee, dan lain-lain, misalnya tentang pemilihan noxious sitting (seperti limbah nuklir) juga menemukan hasil serupa. Metode ekonomi eksperimental sampai saat ini paling mampu menangkap aspek perubahan preferensi. Sebagian pendekatan neoklasik yang berasumsi preferensi itu kompak dan konsisten, telah decisively disconfirmed dengan metode ini.

Untuk Roby, sebagian peneliti di Santa Fe menggunakan metode ini. Buku laris Eric Beinhocker (2007), The origin of wealth – evolution, complexity and the radical remaking of economics, menjelaskan secara runtut, tidak njelimet, berbahasa popular, soal perkembangan ini. Beinhocker adalah usawahan yang sering bergaul dengan para peneliti Santa Fe. Ia PhD dari MIT Sloan school of Management.

Beinhocker menjelaskan, bagaimana ilmu ekonomi (neoklasik) berputar pada sumbu hukum termodinamika pertama (warisan Walras), bahwa ekulibrium itu selalu ada, stabil dan bisa diprediksi. Waktu SMP dulu, kita belajar bahwa hukum ini disebut juga dengan hukum kekekalan energi. Konsep ekulibrium dalam ilmu ekonomi adalah cermin paling lugas dari hukum ini. Roby barangkali tahu benar, ilmu ekonomi jenis ini abai dengan hukum termodinamika kedua. Dan tanpa hukum kedua ini, termodinamika baru lahseparuh cerita.

Menurut hukum kedua itu, entropi – sebuah ekstensi (termasuk disorder dan randomness) dari ukuran sebuah substans atau sistem – adalah tidak tetap, dan selalu meningkat, entah sebagai sistem tertutup itu sendiri, atau ketika ia berinteraksi dengan sistem lain. Ekonom yang mencoba memahami kegagalan pasar (market failures) seperti ekternalitas lingkungan hidup, akan gagal tanpa memperhatikan aspek entropi. Dalam ecological-economics, konsep entropi adalah pokok sentral.

Tirta juga tahu, bahwa manusia tidak selalu melakukan maksimisasi, seperti para "ekonom". Manusia juga melakukan satisficing, meminjam istilah psikolog Herbert Simon. "Ah, saya mah udah cukup dengan IPod jenis ini. Ngga perlu beli yang paling baru", kata seseorang, yang tidak punya masalah dengan budget constraint. Pokok ini relevan dengan "kegelisahan" MCB soal choice dan maksimalisasi pilihan. (cf. Lalu apa dong yang mau dimaksimalisasi?). Simon juga menegaskan, bahwa tugas ilmu pengetahuan yang terpenting adalah menjelaskan sesuatu, bukan memprediksi sesuatu.

Dede Bang, saya ini rajin hadir kapan saja Bang Dede main ke Manado. Seminar, diskusi, dll. "Udah, kamu magang aja di LPEM", kalimat itu berkali-kali dibilang Bang Dede ke saya. Dari yang sering nongol di blog ini, saya mungkin yang paling muda deh, ato masih lebih muda dibanding Aco yang suka ”motong jari dan kuping itu“ hehehe.

Cerita BPPC itu Bang Dede cerita sendiri ke saya, dalam sebuah seminar di Manado. Cerita lain. Suatu waktu, saat mengambil beberapa buku fotokopian di sebuah perpus di Jakarta, Bang Dede kebetulan berada tepat di depan saya. Sambil lihat buku-buku yang hendak saya bawa itu, Bang Dede, di luar dugaan saya, tiba-tiba nyeletuk "Wah, yang itu saya belum punya!". Buku yang ditunjuk Bang Dede adalah karya J. Bhagwati, The wind of hundred days. Maklum, saya dari kampung, jadi kalo main ke ibukota ya nyari buku. (Aco, jangan ketawa lu. Sesama orang kampung, jangan saling mendahului :).

Walah, koq jadi curhat begini sih. Biarin aja ya, biar ilmu ekonomi ada sisi manusianya..hehehe.

Oh iya, soal nyari data cengkih itu, iya Bang. Setuju. Sebaiknya, setiap ekonom, terutama yang muda-muda, juga membiasakan diri nyari data seperti Bang Dede sampai ke penjuru negeri. Biar bisa (dan yang lebih penting: lebih otoritatif) bicara perekonomian, lengkap dengan bilur-bilurnya. Btw, Bang Dede, posting saya koq tidak ditanggapi sih. Cuma dapat terima kasih doang :)

Rizal Thanks balasannya. Aku juga bicara dalam konteks penggunaan metodologi ilmu ekonomi. Persoalannya, apa yang kita pahami sebagai metodologi ilmu ekonomi itu hanya sub-set dari set besar bernama ilmu ekonomi. Ekonomi eksperimental yang kerap aku rujuk disini, digunakan para ekonom. Behavioral Game Theory juga mengadopsi keutamaan-keutamaan ilmu ekonomi.

Jadi soal, barangkali, adalah ketika hasil yang kita dapat dari analisa kita, tidak sesuai dengan wisdom yang kita pelajari selama ini. Disini yang aku maksud dengan butuh kerendahan hati. Yang lebih kacau, bila kita, ketika melakukan analisa, sadar atau tidak berusaha mencapai ideal yang kita pelajari itu. Ibarat orang mabuk (=”ekonom”) menggunakan lampu jalan (=metodologi) untuk mengantarnya sampai ke rumah (=mencapai tujuan tertentu atau rekomendasi kebijakan tertentu). Metafor lampu jalan di sini menunjukkan "penyelewengan" penggunaan ilmu ekonomi.

Aco Kalau aku main ke Jakarta, kita ketemu ya?! ) Tuan rumah yang bayar makan …hahahaha.

Anonim mengatakan...

sonny -- terima kasih untuk elaborasinya. tentu insentif tidak mesti berbentuk uang maupun materi. namun substansi pertanyaan saya tidak berubah: jika jenis insentif baru ditentukan setelah perilaku terpilih diamati (posteriori), maka tidak sulit untuk menciptakan 'cerita' yang masuk akal tentang perilaku rasional sang agen, dan falsifikasi menjadi tidak mungkin. lalu apapun hendak dijelaskan dengan insentif, dari memilih pacar, menjadi teroris, hingga adiksi rokok.

menanggapi herbert simon dan tugas ilmu: mengerti berarti memahami apa yang telah dan akan terjadi; sehingga penjelasan terbaik adalah prediksi, terlepas dari apapun tugas ilmu sebenarnya. kita semua positivis, bukan?

Anonim mengatakan...

Sonny
Sebetulnya disini anda menegaskan kembali kritik terhadap neoclasical economics, terutama tentang preferensi atau utility function. Pasti kita tidak akan pernah lupa asumsi dasar utility function yaitu transitivity untuk menjamin contistency pilihan. Asumsi ini dibuat agar kita mendapatkan utility function dapat dipecahkan dengan penalaran matematika.

Harus jujur kita akui bahwa asumsi ini sering tidak terpenuhi. Manusia sering tidak konsisten pada pilihannya.

Experimental economics memang membuat teobosan baru dalam ilmu ekonomi, terutama dalam hal metodologi. Mereka melakukan riset seperti yang dilakukan oleh para psikolog. Dengan mengambil sample individu untuk dikemudian dilakukan percobaan di laboratorium. Mereka saya pikir secara metodologi melakukan hal yang cukup berani dengan keluar dari metodologi mainstream ala Samuelson dan Friedman.

Maaf, kalo ini agak nyeleneh :-).

Robby. Saya jadi teringat ketika anda menyebut 'thin description' di posting sebelumnya. Saya juga teringat celetukan teman saya waktu mengambil kuliah Philosophy of Science di Groningen. Dia bilang mungkin menarik jika ekonom mengadopsi metodologi antropolg 'thick description' dari Clifford Geertz untuk studi kemiskinan. Saya tidak bisa membayangkan hasilnya seperti apa... :-)

Ps: Thick description adalah metodologi didalam ilmu antropology , yang menurut Clifford Geerz ilmu pengetahuan adalah pendeskripsian fakta-fakta dilapangan dan pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu. Ciri penting metodologi ini adalah si peneliti menyatu dengan obyek yang ditelitinya. Kasarnya, dia ikut menjadi obyek yang dia teliti. Mohon dikoreksi kalo salah, terutama oleh Robby.

Dia terkenal di kalangan antropolog Indonesia. Dari dialah asal muasal lahir istilah Islam abangan dan Islam santri.

a.p. mengatakan...

Tirta -- poin yang bagus. Saya tidak yakin apa bisa menjawabnya dengan baik. Tapi saya akan coba menjawab ulang pertanyaan anda:

Pendekatan insentif tidak berjalan untuk menganalisis individu yang perilakunya (dalam mengambil keputusan) adalah purely random. Artinya, keputusan ia untuk baca buku atau nyebur sumur adalah semata-mata for the sake of baca buku atau nyebur sumur.

Selama keputusan seorang individu untuk baca buku atau nyebur sumur didasarkan atas alasan/motivasi tertentu yang bukan sekedar proses random, maka pada dasarnya itu sudah memenuhi kriteria 'rasional' (baca serial Econ101-nya Aco di Cafe Salemba).

Aco mengatakan...

Tirta, betul bahwa posteriori semua tindakan bisa dijelaskan bahwa ia didorong oleh insentif tertentu. Jika berhenti di situ, alangkah membosankannya ilmu ekonomi itu. Justru yang menjadi tantangan adalah mencoba memprediksi perilaku manusia apriori. Dengan percaya yang pertama (bahwa pasti ada insentif di belakang tindakan X), kita melakukan yang kedua (apa kira-kira yang bisa menyebabkan si A melakukan X). Di sini masuk segala macam asumsi (seperti rasionalitas yang disebut Ape'). Falsifikasi Anda bisa lakukan pada konstruksi model maupun asumsi yang mendukungnya. Juga di sini kemudian alat seperti mekanisme desain menjadi berguna sekali.

Sonny, thanks lagi atas info-infonya. Terus terang saya belum baca GR itu. Tapi kalau yang dimaksud adalah kebijakan sekolah yang mendenda orang tua yang telat menjemput anaknya -- itu justru contoh yang baik sekali tentang bagaimana manusia merespon insentif (dan bagaimana kebijakan menemui unintended consequence-nya dan bukti bahwa desainnya salah). Jika saya orang tua yang sibuk dan saya tahu bahwa jika saya telat menjemput anak saya, saya akan didenda, saya akan berpikir: sekolah (atau guru) akan dapat duit tambahan jika saya telat, dan karenanya mereka punya insentif untuk menjaga anak saya; baiklah, saya akan telat saja dan saya akan bayar.

Anymatters, tenang saja. Lain kali nggak usah dipeduli anonim asal bunyi seperti itu. Sekali lagi thanks atas kontribusi Anda.

Anonim mengatakan...

Aco benar bahwa hukuman denda "dibeli" oleh para orang tua si anak. Karena mungkin marginal utility si orang tua lebih besar dari pada denda.

Cuma ada satu hal yg lupa disebut Sonny bahwa setelah hukuman denda dicabut, ternyata level orang tua yang terlambat tidak kembali ke level sebelum dikenakan denda. Ini yang kemudian tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme insentif.

Penjelasannya adalah karena orang tua percaya bahwa pemilik penitipan anak tetap menjaga anak2nya sama dengan level equlibrium sesudah ada denda. Jadi, penjelasan faktor ekonomi yang keluar :-).

Btw, mungkin ini bisa jadi rujukan lain yaitu Rabin, M. (1993), Incorporating Fairness into Game Theory and Economics, AER. Fehr, E., and Schmidt, K. (1999), A Theory of Fairness, Competition, and Cooperation, Quarterly Journal of Economics 114, 817-868.

Intinya, seseorang akan baik kalau dia mendapat perlakuan baik, dan akan jahat kalo mendapat perlakuan jahat. Kalau pake logika ini, apakah hukuman yang lebih berat kepada penjahat bisa meningkatkan prilaku kejahatan[?]. Well...:-? bisa jadi paper nih... he..he..

Mungkin saja... karena hanya penjahat yang hebat yang akan melakukan kejahatan, maka kualitas kejahatan akan meningkat, kuantitas juga mungkin...

Anonim mengatakan...

*) harusnya: "penjelasan faktor non-ekonomi yang keluar"

Anonim mengatakan...

(PS: Saya dan Aco lagi mendiskusikan riset Gneezy dan Rustichini (GR) tentang 2 tempat penitipan anak dan orang tua murid yang dating telat menjemput anaknya sepulang sekolah. Agar orang tua dating tepat waktu, di salah satu tempat penitipan anak, dikenakan denda bila orang tua telat data lebih dari 10 menit).

Aco, riset GR menunjukkan hipotesis bahwa hukuman uang (baca disinsentif dalam bentuk kerugian uang) tidak selalu berarti berkurangnya perilaku yang tidak diharapkan, dalam hal ini, telat menjemput anak seusai sekolah. Disain kebijakanya salah? Mungkin sedikit lebih subtil dari sekedar disain kebijakan. Misalnya, underlying logic kebijakan itu sendiri, barangkali keliru.

Logic itu dipakai lagi oleh Aco saat melakukan proyeksi perilaku agen pada tempat penitipan anak tersebut. [Aco = "Jika saya orang tua yang sibuk dan saya tahu bahwa jika saya telat menjemput anak saya, saya akan didenda, saya akan berpikir: sekolah (atau guru) akan dapat duit tambahan jika saya telat, dan karenanya mereka punya insentif untuk menjaga anak saya; baiklah, saya akan telat saja dan saya akan bayar"]. Spekulasi Aco ini benar dengan asumsi bahwa baik orang tua atau pemilik tempat penitipan anak/sekolah, adalah perfectly rational and perfectly selfish.

Gneezy dan Rustichini (GR) berpendapat, bahwa ada konteks lebih luas yang mesti diperhatikan. Misalnya persepsi agen atas lingkungan interaksi tersebut. Kondisi pertama (penitipan anak tanpa bayaran denda) adalah kondisi non-market, cuma-cuma. Pikiran orang tua, menurut GR, seperti berikut: "Kontrak saya dengan guru hanya sampai jam sekolah berakhir. Setelah itu, mereka menjaga anak saya secara cuma-cuma. Karena generousity. Dus, saya tidak boleh ambil untung dari kebaikan mereka". Ini alasan mengapa orang tua yang datang terlambat, pra pengenalan denda, lebih rendah.

Setelah denda dikenalkan pada orang tua yang telah menjemput anaknya, orang tua berpikir "Para guru toh menjaga anak saya setelah waktu sekolah usai persis seperti mereka menjaganya saat jam sekolah. Waktu ekstra mereka bisa saya bayar (denda sebagai harga). Dus, saya bisa membeli jasa penjagaan (anak) tersebut sebanyak yang saya mau. Perhatikan perpindahan (shift) persepsi dua macam pikiran orang tua di atas itu. Disini, mestinya menjadi lugas, bagaimana "mekanisme pasar" mengacaubalaukan norma sosial. Norma seperti malu atau perasaan bersalah – yang adalah penting dalam konteks ini – hilang. Norma baru yang muncul? "Once a commodity, always a commodity", kata GR. Riset mereka, masih menurut GR, tidak mendukung asumsi ceteris paribus dalam preferensi.

Unintended consequence-nya dapat diketahui dan bukti bahwa desainnya salah? seperti harapan Aco?
Riset GR bukan cuma memberi konfirmasi bahwa, dalam konteks riset mereka, penggunaan denda uang meningkatkan jumlah orang tua yang terlambat menjemput anak, tetapi juga bahwa, setelah denda dicabut, orang tua yang datang terlambat itu (saat denda dikenalkan, tapi tidak terlambat pra-denda dikenalkan) tetap datang terlambat menjemput anaknya. Kebiasaan itu tetap stabil paska denda. Di sini, insentif uang itu membuat tindakan orang tua – dalam konteks ini - tidak optimal secara sosial relatif terhadap masa sebelum ada denda uang, ketika malu dan perasaan bersalah masih terlembaga dalam kelembagaan pra denda.

Dendi, terkait komentar tentang antropolog Geertz, pernah ada riset terkait (meski barangkali tidak terlalu relevan dalam konteks keseluruhan diskusi kita di blog ini). Saya pernah baca kajian Chandra dan Vogelsang (CV) di Journal of Economic History 59(4), 1999. Mereka menguji teori agricultural involution-nya Clifford Geertz pada saat tanam-paksa di Jawa. Teori Geertz itu kurang lebih: adanya peningkatan spesialisasi dalam produksi pertanian sebagai akibat dari tekanan pertambahan penduduk.

Dengan bantuan fungsi produksi Cobb-Douglas, CV menguji structural break sepanjang produksi gula dengan dataset dari tahun 1848 sampai 1851 saat reformasi liberal terjadi di kolonial Jawa. Structural break itu ditandai dengan perubahan penerimaan pajak ketika masa tanam paksa menurun tahun 1840an. Hasilnya? Secara statistik signifikan, terdapat involusi pertanian dan perubahan struktural.

Tirta Terima kasih untuk informasinya. Karena Tirta yang jauh lebih paham tentang psikologi, mungkin bisa menjelaskan lebih lanjut dan lebih sederhana perihal rasionalitas agen, kategorisasi insentif (posteriori), dan kesulitan melakukan falsifikasi itu. Ini bakal menarik.

Anymatters mengatakan...

Aco, thanks sama supportnya. Kalo faktor non-ekonomi itu memang ada, gue dan anonim ga akan pernah deal, trade and transact, krn respect juga ternyata perlu dlm pasar sementara judgmental dan prejudice itu bisa jadi hambatan. Kecuali jika biaya mediasi dikenakan utk menghilangkan faktor emosi ;)

Roby mengatakan...

Anymatters: salah seorang yang banyak melakukan penelitian faktor non-ekonomi dalam pasar modal adalah Andrew Lo di MIT. Silahkan google nama dia, mungkin ada hasil penelitian dia ada yang berguna, dan siapa tau anda bisa jadi tambah kaya karenanya ;)

Ekonom: saya usulkan satu masalah dimana murni analisis insentif bisa tidak cocok.

Tak heran, referensi utama saya disini adalah buku Micromotive-Macrobehavior-nya Schelling.

Pendekatan insentif kurang berguna untuk menjelaskan aggregate outcomes. Penyebabnya adalah ada efek non-linear ketika mengagregasi preferensi atau tindakan individu ke hasil aggregat. Jadi masalahnya bukan pada analisis insentifnya itu sendiri tapi pada level analisisnya, yaitu level individu.

Artinya, meskipun kita secara pasti mengetahui perilaku individu, belum tentu kita bisa prediksi agregat individu tersebut. Dan sebaliknya, mengerti hasil agregat bukan berarti kita tahu proses di level individu yang memproduksi hasil kolektif yang diamati.

Kata kunci disini adalah dinamika interaksi antar individu.

Tentu interaksi antar individu bisa dimodelkan dengan game theory misalnya. Tetapi jika populasi nya cukup besar dan kompleks, hasil kolektif tidak hanya ditentukan oleh game dan fungsi pay off yang dimiliki individu, tetapi juga pada struktur interaksi antar individu tersebut.

Intuisinya sbb: misal dalam sebuah setting orang akan melakukan X jika dia melihat cukup banyak yang melakukan X. Jadi ada critical mass. Jadi insentif individu bisa disebutkan sebagai fungsi dari jumlah orang lain yang melakukan X. Mengetahui insentif ini tidak cukup untuk memprediksi kapan si individu melakukan X karena tergantung kapan critical mass tercapai. Dan, pencapaian critical mass ini bisa ditunjukkan bergantung pada struktur interaksi yang terjadi. Artinya, struktur yang berbeda bisa memberikan pola difusi yang berbeda yang mempengaruhi insentif.

Jadi disini ada kondisi dimana menemukan insentif cukup sulit karena dia bergantung secara sensitif dan non-linear terhadap dinamika interaksi.

Non-linear ini berarti perilaku kolektif tidak bisa dilihat sebagai penjumlahan linear dari perilaku individu, dan perbedaan kecil bisa mengalami positive feedback sehingga menjadi perbedaan besar.

Bagi saya, Schelling menusuk tepat ke jantung masalah sosial: problem aggregasi. Yang di aggregat bisa individu rasional sempurna, atau individu terbatas yang memiliki banyak bias psikologis, buat saya tak terlalu masalah. Meskipun bagusnya menggunakan asumsi yang di dukung hasil eksperimen.

Di atas, saya menyebutkan path dependency. Pertanyaan aggregasi ini bisa diubah ke pertanyaan bagaimana path dependency terjadi.

Jadi, menurut saya, ada situasi dimana insentif menjadi sulit di tangkap karena:
1. Bias psikologis individu.
2. Dinamika sosial menyebabkan insentif ini saling berinteraksi secara non-linear.

Sampai disini, mungkin Arya akan datang dan berkata bahwa biar itu semua dimasukkan ke black box. Kita ingin penjelasan sederhana.

OK, tapi seperti kata Einstein "Make everything as simple as possible, but not simpler". Memang juga analisis ini akan terlalu kompleks dilakukan secara matematis murni dimana harus ada teorema yang terbukti secara analitis. Tapi sekarang kita bisa menggunakan simulasi komputer. Sudah ada memang computational economics, meskipun pengaruhnya masih kecil.

Anonim mengatakan...

aco -- mungkin contoh imajiner membantu: dua anak kembar yang selalu membaca buku bersebelahan di taman. yang satu murni karena kebiasaan (dimulai random pada suatu hari, lalu diteruskan), yang lain mengikuti kebiasaan saudaranya. pemodelan berinsentif seperti apa yang mampu menangkap ragam perilaku kedua agen tersebut, dan bagaimana falsifikasinya?

sonny -- masalah saya sederhana saja: tidak semua perilaku manusia tepat dijelaskan dengan konsep rasional insentif, karena tidak semua perilaku manusia bertujuan.

misalnya, eksperimen psikologi di yale beberapa waktu lalu mendapati perilaku situasional yang sekilas sulit sekali dipercaya, dimana partisipan menilai karakter seseorang sebagai selfish atau tidak hanya karena manipulasi memegang gelas panas atau dingin ketika berada di koridor sebelum masuk ke ruang tes. studi lain mendapati kecenderungan untuk berlaku rapi setelah mencium baru pembersih, atau kompetitif setelah melihat tas koper. bagaimana analisa insentif dapat menjelaskan perilaku-perilaku ini?

dalam konteks studi GR, mengapa tidak bertanya saja kepada para orang tua: apa yang menyebabkan mereka semakin terlambat setelah ada mekanisme denda? saya pikir penjelasan agen (revealed preference) disini tidak bermasalah.

yang saya tangkap, mayoritas (atau semua?) ekonom sepertinya kukuh berpendapat bahwa perilaku apapun, kapanpun, dimanapun, tidak dapat dipahami lebih baik dengan bertanya langsung.

Anymatters mengatakan...

Roby, thanks linknya. Baru browsing sebentar ternyata bagus juga papernya A Lo. Sbnrnya yg tambah kaya disini adlh klien sementara saya cuma budak pasar yg cuma bisa menabung dari gaji dan komisi.

Tugas saya sebenarnya cuma menghandle faktor psikologis klien salah satunya dengan model keuangan yg dibangun dgn program VBA yg selalu mengacu distribusi normal (Laplace-Gaussian) dari random numbers dan Monte Carlo simulation. Krn spt dikemukakan sblmnya (Sonny) bhw random itu selalu ke atas. Dengan demikian, klien boleh tenang dlm jangka panjang.

Faktor ekonomi saja mungkin sudah cukup bagi saya makanya selalu mampir ke blog ekonomi (mungkin yg agak Austrian school spt blog Mises atau mungkin blog UI) utk mendalami ilmu ekonomi.

Komentar di pos ini sudah lebih dari 30 mungkin bisa menjelaskan dinamika interaksi individu yg Roby maksud. Melihat secara gamblang dr pos2 dan komentar2 sebelumnya, bagi saya yg baru muncul di komentar 15 mungkin itu cuma suatu respon random tp akhirnya bisa mengikut alur dan menambahkan.

Komentar Aco, Sonny, Dendy, Roby precise dlm menanggapi setiap preferred individu dlm pasar komentar ini. Respon Aco dan Roby sdh memberikan semacam insentif bg saya, terima kasih. Dalam hal ini, saya cuma bisa memberikan insentif waktu utk mengerti apakah faktor non-ekonomi itu bisa berguna spt yg saya inginkan.

Entah faktor budaya, preferensi, non-material insentif, dan bagaimana membuat model faktor non-ekonomi tsb.

Rizal mengatakan...

Blog ini memang sialan betul. Niat saya untuk sesedikit mungkin membaca ekonomi waktu liburan jadi berantakan :-).

Soal riset GR tentang penitipan anak, sama seperti Aco,, saya belum baca, tetapi berdasarkan pada interpretasi Sonny, saya masih melihatnya sebagai kesalahan desain insentif, yang menganggap insentif bersifat uang akan selalu jalan.

Itulah kenapa setelah konteks diperluas, dan desain diperbaiki dengan memasukkan soal norma, maka model optimisasi agen ekonomi masih berlaku.

Mengenai apakah terjadi pergeseran preferensi terjadi sebelum dan setelah denda dan balik lagi tanpa denda, saya kira tidak terjadi. Ada pengetahuan baru (ah bisa bayar kok) yang membuat marginal utility dari menitipkan anak berubah, sehingga jumlah konsumsinya sekarang berubah.

Jadi balik lagi ke definisi Becker --maksimisasi, pasar (atau pertukaran), dan preferensi yang stabil --; di mana sebenarnya GR membongkar metodologi ilmu ekonomi standar, Son?

Roby, tentang Schelling, agregasi perilaku individu, dan focal points, saya sependapat. Hanya pertanyaannya adalah apakah perubahan kecil yang menyebabkan perubahan besar terhadap perilaku individu dalam agregat tersebut sama sekali keluar dari mekanisme insentif? Misalnya Al Gore.

Juga apakah agen individu dalam berinteraksi, merespon focal points, juga tidak menggunakan insentif ketika memutuskan untuk, misalnya, memilih memakai bahan-bahan daur ulang?

Model, tentu saja, boleh saja tidak linear, tapi lagi-lagi trilogi Becker di atas, rasanya masih berlaku. Entah kalau saya salah.

Soal penggunaan komputer dan pengolahan data yang makin cepat, yang membawa kemungkinan pengembangan model yang jauh lebih kompleks, ini juga tentu saja kabar baik. Tetapi saya ingat dosen metodologi ilmiah yang selalu menekankan prinsip lex parsimoniae atau Occam's Razor. --sederhanakan saja, kalau hasil prediksi empirisnya toh tidak berubah. Dan kalau ada teori yang hasil prediksinya sama, pilih yang asumsi dan postulatnya paling sedikit.

Yang terakhir ini, saya tahu, bikin ilmu ekonomi neoklasik makin nyebelin :-))

Aco mengatakan...

Tirta: "[M]ungkin contoh imajiner membantu: dua anak kembar yang selalu membaca buku bersebelahan di taman. yang satu murni karena kebiasaan (dimulai random pada suatu hari, lalu diteruskan), yang lain mengikuti kebiasaan saudaranya. pemodelan berinsentif seperti apa yang mampu menangkap ragam perilaku kedua agen tersebut, dan bagaimana falsifikasinya?"

Tirta, forgive for being stupid here. But I really don't understand your question. Apa yang mau dijelaskan atau diprediksi? Usual practice adalah mengasumsikan apa fungsi objective. Apakah itu untuk mengetahui sesuatu lewat membaca, untuk menjadi pintar, dsb. Tapi saya tidak tahu, apa yang ingin Tirta ketahui dengan setup ini. Kalau sekedar ingin tahu anak A atau B akan jadi seperti apa nantinya, that's really not what interests me (or other economists I suppose). Yang mungkin bisa menarik adalah pertanyaan spesifik semacam: anak yang mana yang lebih besar kemungkinannya menjadi, say, child prodigy, etc. Tapi you must say it first: what do you want to try to answer.

Atau saya salah mengerti (lagi) pertanyaan Tirta?

Aco mengatakan...

Sonny: "[R]iset GR menunjukkan hipotesis [maksudnya 'menyimpulkan', Son?] bahwa hukuman uang (baca disinsentif dalam bentuk kerugian uang) tidak selalu berarti berkurangnya perilaku yang tidak diharapkan, dalam hal ini, telat menjemput anak seusai sekolah."

Lagi, saya rasa tidak ada yang mengejutkan dari ini. Si orang tua sekedar membandingkan "biaya" dan "manfaat" menjemput anaknya tepat waktu. Ada yg merasa lebih besar "manfaat"-nya datang telat, sekalipun sudah memperhitungkan tambahan biaya berupa "denda". Lalu masing-masing bereaksi sesuai dengan pertimbangan itu.

Setuju juga bahwa underlying logic dari kebijakannya salah. Namun mungkin tidak salah-salah amat. Yang mungkin kurang baik adalah skema dendanya. Kalau saya Kepala Sekolahnya, saya akan buat misalnya seperti ini: telat 1 jam denda $5, 2 jam 2x$5, dst -- atau variasinya. Ini adalah upaya untuk memperbesar "cost" (atau dilihat dari sisi lain: memperkecil "benefit") dari sengaja datang terlambat menjemput anak.

Logika di atas (dan juga logika dari sisi orang tua seperti dalam jawaban saya sebelumnya) dianggap Sonny sebagai logika "mekanisme pasar" dan "mengacaubalaukan norma sosial" seperti "malu atau perasaan bersalah".

Saya rasa tidak ada masalah untuk memasukkan faktor "malu dan perasaan bersalah" di dalam logika di atas. Jika saya punya keduanya, ia akan menambah "cost" saya untuk datang terlambat. Diandingkan dengan rekan saya yang tidak punya malu atau rasa bersalah, maka manfaat neto dari keterlambat saya jauh lebih kecil (atau bahkan negatif) yang berujung pada saya datang tepat waktu (atau bahkan sudah stand-by di luar sebelum lonceng bunyi).

Anonim mengatakan...

aco -- i see your point. pertanyaan saya adalah: mengapa kedua anak tersebut membaca di taman?

untuk kasus ini, menurut saya, penjelasan yang tepat adalah penjelasan yang mampu menangkap apa yang sebenarnya ada di pikiran kedua anak tersebut ketika membaca di taman: yang satu karena kebiasaan, yang lain karena ikut-ikutan. andaikan ada tiga orang lain yang juga membaca di taman yang sama: yang pertama karena ingin pintar, yang kedua karena tugas sekolah, dan yang ketiga karena udara segar.

kelima alasan diatas semua ada di level analisa yang sama: isi pikiran sadar agen (belief); atau stated preference, menurut bahasa ekonomi.

menurut saya, analisanya berhenti disini. inilah realita yang mesti ditangkap.

datum yang sama mungkin bisa dijelaskan, bahkan diprediksi, dengan asumsi dan model tertentu, TANPA referensi apapun terhadap isi pikiran kedua anak tadi -- atau mungkin dengan mereduksi 'kebiasaan' dan 'ikut-ikutan' menjadi faktor lain yang berada dalam kerangka pikir insentif. selama datum dapat diprediksi, asumsi dan model apapun tidak bermasalah, ala friedman.

satu hal yang membuat saya sulit untuk setuju total dengan friedman.

di fisika, batu yang jatuh diprediksi dengan model gravitasi. asumsi dan model ini tidak bermasalah, selama datum terprediksi. ini satu-satunya level realita yang ada, karena batu tidak berpikir. atau menurut ekonomi, batu hanya memiliki revealed preference.

di psikologi dan ekonomi, situasinya berbeda karena agen (manusia) memiliki stated preference. psikologi melihat bahwa sebagian perilaku manusia tepat dijelaskan dengan revealed preference, sebagian lagi dengan stated preference. yang saya tangkap, ekonomi selalu lebih suka dengan revealed preference.

jadi saya pikir perbedaannya ada di level realita yang hendak ditangkap: level pikiran atau perilaku -- yang sering tidak sejalan.

Roby mengatakan...

Jika kita ambil preferensi sebagai sesuatu yang dikonstruksi, sepertinya revealed preference pun tidak terlalu berguna.

Ada studi menarik tentang donor organ tubuh. Ada perbedaan hampir 60% antara negara2 yang penduduknya menjadi donor organ dan yang tidak. Ternyata di negara dimana lebih banyak yang menjadi donor organ, default pilihannya adalah menjadi donor. Dalam kerangka neoklasik tentu default seharusnya tidak berpengaruh banyak.

Papernya ada disini

Aco mengatakan...

Oh gitu, Tirta, sekarang saya ngerti. Jadi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kedua anak itu ada di taman. OK, kalau ini ekonom nggak bisa jawab, kecuali: 1) ada data historis yang cukup yang merefleksikan alternatif dari opsi taman bagi kedua anak itu; dan/atau 2) langsung nanya ke anak-anak itu kenapa mereka ke taman.

Jelas di sini bahwa ilmu ekonomi tidak bisa menjawab semua pertanyaan :-) perlu psikologi dan yang lain-lainnya.

Thanks untuk stimulating question-nya, Tirta; as always!

Anonim mengatakan...

berikut tanggapan paul krugman akan diskusi kita:
http://www.bigthink.com/business-economics/1749