11 Oktober 2007

Migrasi menolong buruh miskin?-MCB



Dalam buku Memoirs of an Unregulated Economist, pemenang nobel ekonomi George J. Stigler dari University of Chicago menulis:
(You won't agree to this). Because Political Economists have really done more for the labouring classes by their advocacy of free trade , etc. , than all the philathropists put together.
Seperti diduga Stigler, kita tak percaya. Walau begitu,baiklah kita mencoba melihat argumen ini dengan lebih hati-hati.

Grafik di kiri atas menunjukkan analisa tentang migrasi buruh. Tentu, ini adalah penyederhanaan persoalan, tetapi baik untuk membantu melakukan analisa. Sebelum migrasi, jumlah buruh yang bekerja di domestik adalah sebesar OL1( dilihat dari kiri ke kanan), sedangkan buruh di negara asing O*L2 (kanan ke kiri). Dalam kondisi ini upah riil di domestik adalah dititik C dan upah di luar negeri ada di titik B. Disini upah domestik lebih rendah dibanding luar negeri. Jika terjadi migrasi, maka tingkat upah riil keseimbangan terjadi di dititik A, dimana upah di kedua negara sama. Pada titik itu, jumlah buruh domestik adalah OL2 dan buruh asing O*L2. Apa yang bisa disimpulkan dari grafik ini?

Pertama, akan terjadi konvergensi dari upah riil, dimana upah buruh domestik naik dan buruh asing turun (secara riil). Dalam kenyataan, buruh domestik dan asing bukanlah substitusi sempurna, karena itu kesamaan upah praktis tak sepenuhnya terjadi karena hambatan perdagangan, perbedaan teknologi dan juga sumber daya. Namun ada kecenderungan bahwa konvergensi terjadi --walau tak membuat upah domestik sama dengan luar. Williamson (1995) menunjukkan bagaimana upah riil di negara tujuan migrasi menurun dan di negara asal migran meningkat.
Kedua, Buruh domestik diuntungkan karena upahnya naik, buruh asing akan rugi karena upahnya turun secara riil. Pemilik modal (capitalists) di luar negeri akan untung, karena upah buruh riil yang relatif lebih murah dibanding sebelum migrasi, sedang capitalists domestik akan rugi karena upah buruh lebih tinggi setelah terjadinya migrasi.

Analisa ini menunjukkan: yang dirugikan dengan migrasi sebenarnya adalah buruh asing dan kapitalis domestik. Benarkah begitu?

Mari kita lihat dalam kasus Indonesia. Jika pasar tenaga kerja dibuka, dapatkah kita membayangkan bahwa pekerja dari Singapura, Malaysia, Jepang, Australia akan datang ke Indonesia dan mengambil alih pekerjaan tenaga kerja tak terampil (pekerjaan yang dilakukan oleh buruh miskin)? Rasanya agak sulit membayangkan itu. Tapi bisakah kita membayangkan bahwa pekerjaan tenaga kerja tak terampil di Singapura, Malaysia, Jepang, Australia diambil oleh pekerja Indonesia dan mereka mendapat upah lebih tinggi? Tak sulit untuk membayangkannya, karena hal itu telah terjadi pada buruh migran kita di Singapura, Malaysia. Persoalannya adalah perlindungan terhadap buruh migran kita yang lemah, sehingga mereka diperlakukan dengan buruk di luar. Jadi soalnya bukanlah upah yang makin buruk, atau kesejahteraan yang buruk, tetapi perlindungan yang buruk, yang membuat mereka tak memperoleh manfaat yang seharusnya. Artinya jika perlindungan buruh migran dilakukan, maka buruh migran Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan liberalisasi tenaga kerja. Itu artinya pula bahwa buruh miskin sebenarnya dapat memperoleh pekerjaan dan manfaat dari migrasi.

Bagaimana dengan pekerja terampil? Kita dapat menduga bahwa pekerja terampil (umumnya berpendidikan lebih baik dan relatif lebih kaya) akan mendapat saingan yang ketat dari Malaysia dan Singapura misalnya. Posisi pengacara, akuntan, arsitek, dokter di dalam negeri mungkin akan terancam --walau belum tentu juga, karena mungkin tak banyak dokter, akuntan, pengacara, ekonom asing yang mau bekerja dengan upah yang lebih rendah. Untuk sementara anggaplah mereka mau, analisis ini menunjukkan bahwa yang paling kuatir dengan liberalisasi pasar kerja adalah kelas menengah. Merekalah yang dirugikan. Sedangkan buruh tak terampil di untungkan. Pola yang sama juga terjadi di Eropa dan Amerika. Itu sebabnya Amerika Serikat tak mau membuka diri terhadap tenaga kerja dari Meksiko. Amerika Serikat, Australia cenderung proteksionis, karena pekerja tak terampil mereka dirugikan.

Jika benar demikian, apakah ini berarti bahwa liberalisasi pasar kerja ternyata baik bagi buruh miskin? Apakah proteksi pasar kerja hanya membela kelas menengah? Bisa jadi begitu. Jangan-jangan yang kita lakukan dengan menutup pasar tenaga kerja dari luar adalah upaya membela kelas menengah dengan mengatasnamakan buruh miskin. Jika benar begitu, proteksi ternyata justru membela yang relatif kaya dan bukan yang miskin.

7 komentar:

kzn mengatakan...

Bagaimana proteksi buruh trampil dihilangkan utk profesi2 tertentu, mis: profesi macam Homer Simpson di PLTN, software developer & pembuat animasi?

kzn mengatakan...

Bagaimana dgn anak2 swasta yg sekolah di LN dan kembali jd buruh trampil? Mereka tetap butuh proteksi dari lulusan lokal kan? Tidak?

dede mengatakan...

Kzn
Dalam prakteknya semua negara selalu melakukan proteksi bagi buruh terampil dan tak terampil. Lihat saja di negara-negara maju. Ini sebenarnya sikap proteksionis. Karena itu issue migrasi selalu menjadi issue yang sensitif secara politik.
Jika proteksi ini dihilangkan buruh miskin dari negara berkembangs sebenarnya diuntungkan

Rajawali Muda mengatakan...

Bang dede, menurut saya ada efek antar waktu dari migrasi dan segmentasi pasar kerja. asumsi : unskilled workers migrate kemampuan untuk adjust dengan lingkungan lebih rendah daripada skilled workers.unskilled workers cenderung bergantung pada seniornya untuk survive di dunia baru, produktivitasnya rendah secara relatif karena harus beradaptasi dengan bahasa,budaya dll. supposed that wages di unskilled labor market terbagi menjadi tiga bagian.satu, incumbent workers pribumi, dua,seniornya,dantiga, new comer, dengan new comer mendapat gaji terendah.
Sedangkan buat skilled workers,tidak ada segmentasi ini,instead, they compete one and another, juaranya adalah dengan produktivitas tertinggi, dengan gaji yang tinggi pula.

jadi mungkin membuka proteksi membuat buruh miskin secara relatif worse off (atau less better off?)at least in the short run.

dede mengatakan...

Rajawali muda, saya tidak terlalu yakin dengan argument bahwa buruh unskilled akan worse of dalam jangka pendek. Buruh unskilled cenderung short sighted, kalau mereka worse of dalam jangka pendek, maka mereka tidak akan survive. Itu alasannya mengapa mereka rela menjadi buruh ilegal ketimbang buruh legal. Dalam jangka pendek, menjadi ilegal worker lebih mudah dibanding legal worker. Karena mereka short sighted, income ditempat baru lebih baik ketimbang di tempat asal dan cost untuk long run relatif lebih mahal, maka mereka bersedia menjadi buruh ilegal. Dari sini kita bisa melihat bahwa mereka cenderung melihat dalam jangka pendek. Kalau ternyata buruh migran terus meningkat, itu artinya indikator bahwa even dalam short run mereka tidak dirugikan

Anonim mengatakan...

Segera lakukan perbaikan ekonomi dengan suatu Resolusi Ekonomi yang berdasarkan ekonomi kerakyatan dan menumbuhkan kepercayaan dunia bisnis internasional dan perbankan internasional.

Rajawali Muda mengatakan...

Bang dede, apakah mungkin kedatangan migran migran baru lebih karena informasi asimetris tentang ekspektasi mendapat kerja di negara maju(todaro, seperti posting mas aco) dan/atau resiko yang besar di negara sedang berkembang, misalnya karena kekeringan, instabilitas pekerjaan dan lainnya(stark). Studi yang dilakukan borjas di amerika menunjukan trend yang menurun dari disparitas gaji antara migran-non migran,dengan unskilled workers mengalami penurunan paling drastis. Memang secara relatif remunerasi yang diterima lebih besar daripada di kampung halamannya. tapi ke depannya apakah tidak mungkin ini akan berbalik? maksudnya di satu titik nanti membuka proteksi mungkin malah worse off? mengingat trend yang menurun, terutama bagi generasi penerus migran?