18 Oktober 2007

10 tahun setelah krisis-MCB

Berikut tulisan pendek saya mengenai 10 tahun krisis yang diterbitkan di Special Issue JBIC Today . Lihat juga diskusi menarik dari Takatoshi Ito dan Masahiro Kawai etc. di dalam terbitan ini, mengenai krisis Asia.

4 komentar:

Amir Karimuddin mengatakan...

Kata Prof Ito: "Indonesia had ample foreign reserves. That's why I find it strange that the Indonesian government approached the IMF for support."

If we can turn back the time, apa yang seharusnya [lebih efektif] dilakukan pemerintah Indonesia di tahun 1997 jika tidak meminta bantuan IMF?

dede mengatakan...

Bung Amir, saya kira krisis 1997 sangat kompleks. Keputusan Gubernur BI untuk meminta stand by loan untuk cadangan devisa juga bisa dimengerti. Pada saat krisis kepercayaan, cadangan devisa bisa anjlok setiap waktu (waktu itu hanya sekitar $20 an bn kalau saya tak salah). Namun, saya kira IMF memang membuat kesalahan dengan penutupan 16 bank. Mengenai kebijakan uang ketat dan budget ketat, sebenarnya sudah dilakukan pemerintah sebelum IMF datang (lihat interest rate pada bulan Agustus 1997, IMF datang Oktober 1997). Kebijakan ini kemudian diteruskan oleh IMF. Yang menarik: brbeda dengan tundingan Stiglitz selama ini, pemerintah ternyata tidak pernah menerapkan budget surplus (lihat datanya). Bahkan IMF pernah mengijinkan budget deficit 8%, yang menurut saya terlalu berbahaya.
Mengenai tingkat bunga, walau saya kritik kebijakan itu, namun kita juga harus adil, pertanyaanya adalah jika tingkat bunga tidak dinaikkan, apakah situasinya akan membaik? Saya juga tak pasti, karena dalam situasi panik, perbankan untuk mempertahankan depositnya jg mungkin akan menaikkan bunga. Karena itu kita harus lihat dengan lebih hati-hati dan detail.

a.p. mengatakan...

Yang harus dilakukan tahun 1997 - bulan apa? Kalau kita turn back time ke Juni, Juli atau Agustus 1997, saya rasa kesimpulannya akan beda. Not that I know what best to do, though...

anymatters mengatakan...

Pem dan swasta nas (bank & corp) saat itu seharusnya melupakan sementara perhitungan Value-at-Risk (VaR) yg membuat nilai exposure worst-case scenario untuk foreign liability kelihatannya amat sangat besar (utk confidence level 99%) dan tidak bisa di-hedge dgn cadangan devisa yg ada. VaR analysis itu banyak kelemahan dan tdk applicable saat krisis. VaR Juni sdh melebar, Juli Agustus yg makin lebar lagi.