29 Januari 2009

Memahami Asumsi Makro dan APBN 2009-MCB

Berikut tulisan saya di Bisnis Indonesia, tanggal 29 januari 2009, hal 1


Memahami asumsi makro dan APBN 2009

oleh : Muhammad Chatib Basri (Direktur LPEM-FEUI)


"Jika indikator kinerja makroekonomi baik, kinerja secara mikro juga mestinya baik. Namun, nyatanya kinerja makro baik, di tingkat mikro kita masih babak belur. Apa indikator makro masih ada gunanya?" Inilah pertanyaan yang saya terima dalam face book. Tak salah. Selengkapnya

10 komentar:

Pustaka Pohon Bodhi mengatakan...

Berbohong dengan statistik sudah menjadi pekerjaan tetap pemerintah...

"Indikator" nyaris irelevan di zaman ini...

xxx mengatakan...

Setelah lihat blog mantan muslim ini jadi kepengen murtad!

Klik> FORUM MURTADIN (ex-muslim) INDONESIA

Klik> Antara Islam dan aliran sesat

Pusing aku...

Giyanto mengatakan...

Tapi, kalau di dunia ini tidak ada yang bohong kurang asyik. Lebih asyik lagi kalau pembohongnya oleh kalangan yang konon jarang berbohong--Setidaknya menurut yang berbohong.

Namanya juga sama2 cari rizky di kota besar seperti Jakarta. Kalau ndk bohong kurang asyik lah.

Anonim mengatakan...

sebenarnya bukan kebohongan namun demikian lah adanya perhitungan statistik adalah benar.

namun, yang jadi permasalahannya faktor dominannya adalah variabel minoritas. oleh karena itu, terdapat gap antara minoritas dan mayoritas yang menimbulkan ketimpangan distribusi.

Asumsi makro merupakan gambaran umum keadaan perekonomian suatu bangsa.

namun seharusnya hal yang perlu dikaji lebih mendalam adalah sisi mikro. karena mikro menggambarkan secara detail kodisi yang ada di dalamnya.

selama ini pemerintah selalu memberikan kebijakan kebijakan yang sifat nya cenderung pada asumsi makro. sementara itu implementasi kebijakan mikro seringkali di abaikan.

kita ingat pada saat rezim soeharto dimana saat itu pertumbuhan ekonomi di Indonesia mencapai 6-7 % dan makro ekonomi tumbuh dengan cepat.

namun, lihatlah di dalamnya, ketika rakyat miskin dan pengangguran masih membeludak.

tidak dapat di sangkal lagi bahwa kebijakan-kebijakan yang kemudian terprogram dalam APBN baiknya lebih ditinjau kepada sisi mikronya yang kemudian akan berdampak pada pertumbuhan sektor riil.

Giyanto mengatakan...

@Anonim
"namun, lihatlah di dalamnya, ketika rakyat miskin dan pengangguran masih membeludak."

Saya melihat sebaliknya Bung, sebenarnya yang miskin adalah penulis artikel ini. Sekali lagi maaf,pemahaman ttg "kemiskinan" kita sangat berbeda.

Menurut saya, Lebih baik sedikit harta daripada sedikit hati dan empati....alias yang selalu menyimpangkan pemahaman buat dirinya sendiri...

Bukankah negara itu yang hidup di atas banyak orang?bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin negara dapat mengentaskan kemiskikan?

Anda kelihatannya sudah lama mengabaikan Tulisan Bastiat ya?saya memahami, keliatannya bacaan kita berbeda. Dewa anda sepertinya Lord Keynes, atau Friedmen?

Anonim mengatakan...

@Giyanto

Maaf bung, sepertinya bahasan anda telah melenceng dari tema yang ada.

namun saya akan sedikit mengomentari, tentang pola pikir anda yang bilang bahwa "Bagaimana mungkin negara dapat mengentaskan kemiskikan?"

coba anda baca dan buka kembali UUD'45 dan anda akan menemukan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara...

jelas disana bahwa negara bertanggung jawab atas besarnya kemiskinan yang ada di negara Indonesia.

Anda pernah baca "Pelangi di Mata Persia" ?

coba anda baca, dan anda mudah mudahan anda akan tergugah melihat keadilan pemerintah Negara Iran terhadap rakyatnya...

lalu bandingkan dengan di Indonesia...

Selamat membaca.

Giyanto mengatakan...

@
"coba anda baca, dan anda mudah mudahan anda akan tergugah melihat keadilan pemerintah Negara Iran terhadap rakyatnya..."

"coba anda baca dan buka kembali UUD'45 dan anda akan menemukan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara..."

Giyanto
Oh ya di rumah ak juga punya UUD sendiri: bahwa petani, nelayan, pengusaha, dan buruh telah dirampok oleh NEGARA!

zaki mengatakan...

salam kenal pak

Supartono Muhammad mengatakan...

http://afrinvest.net

syariahnews mengatakan...

Saatnya kita mungkin harus beralih ke sistem ekonomi konvensional ke sistem ekonomi syariah, agar jelas bangsa ini makmur dlaham hal ekonomi,.

syariahnews.blogspot.com