28 April 2008

Ekonomi Politik Beras (5) - AAP

Sekalipun berita bahwa Indonesia surplus beras sulit dipercaya (lihat posting di bawah), bagaimana menjelaskan suara-suara anti eskpor belakangan ini?

Tentu ini butuh penelitian serius. Tapi berikut adalah beberapa hipotesa yang ingin saya uji.

  • Sekedar efek ikut-ikutan (locomotive effect): karena India, Vietnam, dan Thailand membatasi ekspor, mengapa Indonesia tidak?
  • Filosofi "harus menyelamatkan diri sendiri" dari ancaman krisis pangan dunia (lihat posting di bawah). Banyak yang tidak menyadari bahwa implikasi dari filosoi ini adalah "biarkan orang lain yang kelaparan".
  • Sekedar spekulasi dengan memanfaatkan informasi asimetrik: "Mudah-mudahan orang lain tidak ekspor, sehingga hanya saya yang ekspor dan menarik keuntungan besar dari harga internasional yang tinggi".

Catatan: perdebatan dan diskursus beras sayang sekali agak kehilangan arah. Banyak yang menyangka bahwa jika Anda setuju membuka keran impor, "harusnya" Anda tidak setuju membuka keran ekspor. Ini implikasi logis yang keliru (lihat sebuah debat di Cafe Salemba). Kebanyakan mereka yang setuju dilepaskannya keran impor juga setuju dibebaskannya ekspor, karena yang mereka tidak setujui adalah distorsi pada perdagangan (baik impor maupun ekpsor).

18 komentar:

Anymatters mengatakan...

Ekspor beras ini kan bukan cuma satu macam. Kalau India tahan ekspor berarti harga Basmati yg bisa naik tinggi, kalau Thailand yg tahan ekspor harga Jasmine yg bisa naik tinggi. Kalalu Indonesia yang tahan ekspor, beras macam mana ya yang bakalan naik? Sebenarnya beras macam mana sih yang diekspor Indonesia?

Aco mengatakan...

Jeff, karena mereka substitusi, jika yang satu ditahan supply-nya, sebagian demand bisa (terpaksa) beralih ke yang lain. Kalau supply dari "yang lain" ini juga terkendala (atau responnya tidak cukup cepat), maka semua harga akan naik.

Anymatters mengatakan...

Berarti ada kesempatan beras Indonesia lebih laku di pasar dong, kalau ekspornya tdk ditahan. Btw, beras apa sih yang berasal dari Indonesia? Dijual ke negara mana aja? Laku ga di pasar?

Anymatters mengatakan...

Setelah googling ke mana2, ternyata ekspor beras itu dominan disuplai dari Sulsel ke Afrika Selatan.

Yang menarik lagi, bahwa Indonesia bukan top exporter, malah cenderung top importer.

Jadi sebenarnya, diskusi ekspor beras Indonesia itu signifikan ga ya?

Giyanto mengatakan...

intinya, bukan pada boleh impor/eskspor apa tidak.
bukannkah yg jelas semua barang boleh diperdagangkan. Semua logika di blog ini sangat aneh.
masalahnya, siapa yang berhak melakukan itu?
Saya jelas menolak impor, dalam arti kebijakan yang dilakukan pemerintah, karena hanya bertujuan menguntungkan pemalas dan koruptor...
Sekarang kita dibodohi dengan logika pemerintahan...
apa itu stabilitas? mana ada harga stabil? ndak ada! sebelum jadi penulis, anda harus jadi pedagan dulu!
Intinya, pasar bebas murni....
dan istilah ekspor/impor terkesan angker...
ke depan, istilah ini perlu diganti: saling berdagang dengan bebas ke semua wilayah seluruh dunia.
titik...

Anonim mengatakan...

"bukannkah yg jelas semua barang boleh diperdagangkan."

bukannkah yg jelas semua pemerintah boleh buat peraturan. ;-}

Lionel Lie mengatakan...

Logika orang dagang itu kan cuman satu cari untung/profit!
Selama impor bisa jadi profit kenapa ngga.
Selama ekspor bisa jadi profit kenapa ngga.

Permasalahannya yang profit kan hanya si pedagang, sedangkan bagian masyarakat yang lainnya gimana?
Asumsikan hanya ada pedagang dan buruh.
Pertanyaan saya kalau pedagang untung apakah pekerjanya/buruh juga ikut untung?
Kenyataannya kan gak begitu. Seringkali pedagangnya untung dan buruhnya diperas habis-habisan.


Juga dalam konteks perdagangan internasional kan ada pengusaha yang diuntungkan dan ada pengusaha yang dirugikan.
Apa lantas kita bilang anda keluar aja karena kalah bersaing di pasar bebas?
Pengusaha sudah invest milyaran rupiah buat bangun pabrik. Mana rela mereka disuruh membiarkan uang menguap begitu saja.
Paling sedikit mereka bakal melobi politikus untuk memproteksi usaha mereka yang tidak kompetitif itu.
Ujung-ujungnya juga mempertahankan profit yang mereka punya kan.

Naif sekali kalau kita berpikir kalau bebas berdagang pasti semua untung.

Giyanto mengatakan...

"Logika orang dagang itu kan cuman satu cari untung/profit!"

"Naif sekali kalau kita berpikir kalau bebas berdagang pasti semua untung".

Barangkali anda mau menyimpulkan, tetap subsidi!
Coba bayangkan, ketika kita sedang dipasar, seorang petani baru panen dan menjual beras ke pasar, lalu ada pembeli (bisa jadi pedagang ato langsung konsumen...)

tiba2....
datang pemerintah dengan beras murah, ato bisa jadi Gratis!!!!ha2...

Apa yang terjadi?petani beranya ndk laku bung....

Terus, gimana petani mau memproduksi lagi, woh gabahnya dijual sangat murah....

saya menebak bung lionel itu sukanya menjual orang miskin untuk kepentingan kekuasaan, yang akibatnya merugikan produsen....lha logika ginian kok dipakai!

kalau org dagang pasti untung, saya menganjurkan anda berdagang dulu...coba donk!!!! apakah anda pasti untung? mohon dicoba sendiri!please.....

Salam
Giy

Letjes mengatakan...

Halo pak Aco. sy datang seminar CSIS tentang kebijakan beras dan dia menjelaskan bagaimana kondisi produksi beras yg jumping number. Lalu ada jg si Neil yang menunjukkan bgmn ketidakakuratan data yg ada bisa berefek fatal. tadinya surplus bisa berubah jadi defisit.

sy sbnrnya setuju sekali, secara logika ekonomi, tentang kondisi harus impor dulu dan ekspor skrg. secara saya juga percaya akan perdagangan bebas dan pemikiran pak aco jg kurang lebih banyak menular.

tapi melihat kondisi yg ada, terkait dengan surplus beras yang meragukan, lalu memperhatikan pola panen kita dimana pasti ada masa paceklik (meski diramalkan panen kita akan bagus tahun ini), dalam pengambilan kebijakan, hal2 tsb harus diperhatikan.

Ketika dlm posting ini Pak aco mengajukan beberapa hipotesa, sy menangkapnya Pak Aco terlalu agak "suudzon" dan sedikit terbawa emosi. Apalagi implisit Pak Aco belum punya bukti nyata. Maaf mungkin salah.

sebagai tambahan: setahu saya, seorang peter timmer menyarankan untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan domestik. perencanaan impor jg dia sarankan sebesar 1 juta MT sebagai jaga2 pada masa paceklik.

Lalu untuk Giyanto, apa kabar Gi? wah emosi sekali anda bung? "semua logika di blog ini sangat aneh". wah maaf sekali bung, saya lagi-lagi (mungkin selalu) tidak setuju dengan anda. Mungkin anda yg harus belajar lagi soal ekonomi. baru stlh itu masukkan faktor2 lainnya. dan anda bs berbicara lagi.sorry bung.

Maaf terlalu panjang

Letjes mengatakan...

maaf, dia yg sy maksud di alinea pertama: Pantjar Simatupang.

Aco mengatakan...

Letjes yang baik, terima kasih atas komentar Anda. Setahu saya, yang dimaksud Peter Timmer adalah "iron stock" atau beras cadangan sebesar 1 juta ton. Jadi, boleh impor untuk memastikan bahwa ada persediaan 1 juta ton. Pada saat kita kena tsunami, gempa dll, cadangan itu pernah ditargetkan sekitar 2 juta ton. Logikanya, jika produksi domestik ternyata melebihi kebutuhan domestik plus target cadangan, kita bisa ekspor. Yang terjadi sekarang, pemerintah maunya 3 juta ton, baru boleh ekspor.

Tentang suudzon, maaf kalau agak mengganggu. Justru karena memang belum dibuktikan, makanya saya sebut sebagai hipotesis. Dalam penelitian, memang kita harus "curiga terus, karena itu kita mulai dengan hipotesis. Untuk lalu kita terima atau kita tolak, berdasarkan bukti yang kita temukan.

Thanks.

Lionel Lie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Lionel Lie mengatakan...

wah bung giyanto jangan-jangan anda ngomong panjang lebar tentang dagang tapi anda sendiri gak ngerti dagang itu kaya gimana, gak ngerti susahnya berdagang, gak ngerti jahat dan liciknya orang dagang.
cuman asal ceplas-ceplos doang.

bung anda ngerti ngga mekanisme subsidi itu seperti apa?
jangan-jangan anda terbalik-balik dan kebingungan antara subsidi raskin yang untuk rakyat miskin dan subsidi pertanian yang untuk petani.
lebih baik anda cari aja dulu definisi subsidi raskin itu apa dan definisi subsidi pertanian itu apa.

bung Giyanto saran saya anda belajar menyusun argumen saja dahulu.
argumen anda seperti politisi di Senayan yang suka berkelat-kelit kesana kemari, tidak konsisten, cuman berkesan populer, gak ada solusi dan argumen yang valid, sudah gitu asal menuduh orang pula,
atau dengan kata lain hanya pepesan kosong.

Giyanto mengatakan...

Lionel:
bung anda ngerti ngga mekanisme subsidi itu seperti apa?

Giy:
Kalo blog ini menulis masalah beras, maka saya akan selalu berkomenter. Alasanya sederhana dan personal: saya lahir dan tumbuh bersama beras!

dan barangkali argumen saya akan selalu berlawanan dengan blog ini:

Dan ini definisi subsidi menurut saya:
subsidi adalah dana curian dari pemerintah guna didemarkan kepada yg diperintah atas nama imoralitas demi kemelaratan bersama berdasarkan prinsip ketololan.

ya itu definisi saya. Barangkali di kamus ilmiah ilmu ekonomi anda tidak akan menemukannya.

lebih tepatnya,argumen saya bukan cara politisi, tapi cara jalanan. Dan saya hanya orang lapangan yang terperosok menjadi akademisi.

Untuk masalah ekonomi (dalam pengertian mainstream) barangkali memang saya harus belajar dengan blog ini. Tapi, selama abad 21 mendatang, para ekonom harus banyak belajar dengan saya.

Salam
Giy

Rajawali Muda mengatakan...

giyanto, sebenarnya konsep beras miskin dan tabungan beras yang anda sebut di blog anda suatu realitas yang menarik, tapi sepertinya anda tidak konsisten dengan pemikiran anda, and mendukung persaingan bebas tapi menolak impor, anda mendukung petani,tapi menolak subsidi (kayaknya ini lebih ke beras miskin?).sebaiknya liat prespektif dari sisi yang lebih luas, jangan subjektif. orang miskin bukan petani bung,naiknya harga pangan petani bisa menabung beras, sebagian besar orang miskin lain?. lihat lebih luas bung.

Giyanto mengatakan...

Rajawali Muda:
mendukung persaingan bebas tapi menolak impor, anda mendukung petani,tapi menolak subsidi.

Giy:
Terima kasih telah mengingatkan bung!. Yang sebenarnya saya tolak dalam semua tulisan saya, liat juga yang terbaru mengenai wacana intelektual, ialah segala campur tangan kekuasaan (pemerintah) dalam hal ekonomi, ya termasuk subsidi, impor/ekspor beras (selama itu dilakukan oleh agen ekonomi, ak oke2 saja), tapi kalau kekuasaan ikut campur dalam kegiatan ekologis ekonomi, maka yang terjadi adalah kekacauan.

Coba bayangkan, seandainya beras petani dibeli eksportir, pasti harganya lebih tinggi. Bukankah sekrang harga internasional bisa mencapai 7 Rb sampai 10 Rb/kg. Coba bayangkan. Sekarang petani pasti sudah kaya. Tapi gara2 kebijakan pemerintah yang tolol, petani jadi miskin.

Yang tidak dipahami pemerintah adalah efek impor beras mereka terhadap perusakan harga lokal.

Jadi jelas saya mendukung "pasar bebas". Tapi sekarang yang terjadi itu bukan pasar bebas. tapi seolah2 bebas.

Selama;
1. Bulog masih berdiri
2. The Fed masih ada
3. dll spt institusi sejenis

yang sebenarnya tidak membuat pasar benar2 bebas. Tugas kita menuju pasar bebas masih jauh BUng. Jadi, sampai nanti kita tua pun, saya tidak yakin pasar bebas bisa berjalan. Tapi itu tugas kita untuk memperjuangkan. Ayo Bung Rajawali, kita sama2 berjuang!

Salam KEbebasan
Giy

Anymatters mengatakan...

Beras itu cuma bisa dijual gratis ke para gerilyawan yg sedang berperang membela Indonesia. Yang lain harus bayar ;-)

Giyanto mengatakan...

Wah, setuju banget!