23 Oktober 2007

Melacak mahasiswa bohong -- AAP

Cerita di bawah diambil/diadaptasi dari Dixit dan Skeath (Games of Strategy, 1999).

Ujian mikroekonomi akan diadakan hari Senin. Ada dua orang mahasiswa yang kebetulan diundang oleh kawan-kawan mereka dari fakultas lain untuk sebuah pesta di hari Sabtu, dua hari sebelum ujian. Kedua mahasiswa ini yakin bisa membaca materi ujian di hari Minggu.

Namun, pesta hari Sabtu itu betul-betul all-out hingga Minggu dini hari. Setiba di rumah, kedua mahasiswa kita ini sudah teler dan hanya bisa tidur panjang sehari penuh. Akibatnya, mereka tidak bisa mempersiapkan diri untuk ujian. Mereka lalu sepakat untuk minta dispensasi untuk ujian susulan.

Besoknya, Senin, mereka datang ke dosen mereka. Dengan wajah sedih mereka bilang bahwa mereka mendapatkan 'musibah'. Mereka cerita, mereka pergi ke Bandung untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat pada hari Sabtu dan berniat kembali ke Jakarta siang itu juga. Namun ban mobil mereka pecah menginjak paku dan mereka tidak punya ban cadangan. Mereka menunggu lama sebelum mendapatkan bantuan, dan alhasil sampai rumah sudah malam sekali, dan lebih parah lagi, mereka kehabisan tenaga untuk belajar pada hari Minggu. Karena itu, mereka meminta pengertian Pak Dosen agar mereka dibolehkan ujian susulan pada hari Selasa.

Pak Dosen setuju. Besoknya, Selasa, mereka ditempatkan di dua ruangan terpisah. Masing-masing diharuskan menjawab 2 pertanyaan saja. Soal pertama yang diberikan di satu kertas terpisah, sangat mudah, dan bobotnya cuma 10 persen. Dalam waktu kurang dari 15 menit, mereka sudah menyelesaikannya. Lantas mereka mengumpulkannya. Pak Dosen kemudian memberikan kertas kedua berisi pertanyaan berikutnya. Bobot soal kedua ini 90 persen. Soal itu berbunyi:

Ban mana yang bocor?

Update: A.p. dari Cafe Salemba baru saja memberitahu saya bahwa Yudo di Ruang 413 telah menulis varian dari cerita ini.

Update: A.p. frustrasi dengan betapa tidak elegannya cara mahasiswa menipu dosen (Catatan: Tentu saja dosen hanya bisa mengamati mereka yang gagal menipu alias ketahuan; sementara yang berhasil tidak pernah terdeteksi. Dalam riset, persoalan ini harus di-sterilkan dari apa yang disebut "selection bias" ini: kita mengamati sebagian saja dari sampel yang relevan, sehingga kesimpulan yang ditarik harus dikualifikasi).

Update: Fik dari Youthful Insight melihat dari sudut pandang mahasiswa. Jangan lewatkan.

9 komentar:

Anonim mengatakan...

Good point...unconditional and unanticipated prisoner's dilemma. Even more interested, let's assume that the two villains did not know design mechanism.

kijokogendeng mengatakan...

Ini prisoner's dilemma, apa dilemma aja:)
Pengusaha:
A: nyogok, dapet proyek
B: Nggak nyogok, nggak dapet proyek
Pejabat:
A: Nerima, gue kaya
B: Kgk nerima, pengusaha yg kaya

Anonim mengatakan...

Jawabannya:
"Pak, semester depan masih ada mata kuliah ini nggak?"

yuan mengatakan...

kalo kedua mahasiswa itu berfikir rasional. mereka berdua akan menjawab ban belakang. mengapa? karena ban belakang lebih cepat 'haus' daripada ban depan, sehingga menyebabkan probabilita ban belakang meletus > dari probabilita ban depan.

dari cerita kedua mahasiswa tersebut juga dapat diambil kesimpulan klo ban belakang yang pecah. karena kedua mahasiswa tersebut harus pulang sabtu siangnya, artinya mereka harus ngebut(lewat tol) untuk kembali ke jakarta. klo ngebut, ban depan yang pecah, setir akan susah di kendalikan dan akan membuat mobil tergelincir, yang artinya akan ada kecelakaan parah. klo ban belakang yang pecah setir yang terhubung dengan ban depan masih dapat dikendalikan.

jadi jika kedua mahasiswa berfikir rasional, dan percaya bahwa masing2 akan berfikir rasional. maka mereka akan jawab 'ban belakang'. dosen pun tertipu, huhu..

Fik.. mengatakan...

Pak, ikutan ya.
Why students cheat

Ini juga membuktinya betapa malasnya mahasiswa tipe pembohong, plagiat, dan pencontek. Bahkan gak kepikiran untuk mengkolaborasikan sebuah cerita yang cukup detail. More details in my post, though =).

Aco mengatakan...

Yuan, kalau mahasiswa-nya memang sepinter itu, mereka layak "menang" -- salah sendiri kalo dosennya ketipu. Tapi kalau mahasiswa "sepinter" itu, mereka seharusnya nggak usah takut dateng ke ujian tanpa persiapan seperti mahasiswa "biasa-biasa" aja -- lihat posting-nya Fik lewat link-nya di komentar di atas. (Fik, good job!).

Letjes mengatakan...

Nambahin komentar aja soal comment dari yuan. saya rasa agak kurang cerdas kalo dosennya cuma memberikan pilihan ban belakang dan depan saja. Kemungkinan mereka menjawab sama (dan terhindar dr tuduhan berbohong) terlalu besar, 50%. Jadi pasti dosen setidaknya akan memberikan 4 pilihan: ban depan kanan atau kiri, atau ban belakang kanan atau kiri.

Aco mengatakan...

Bener, Letjes. Makanya Pak Dosen itu cuman nanya: "Ban mana yang bocor" tanpa embel-embel "... depan atau belakang?".

yuan mengatakan...

Letjes, saya justru berfikir sebaliknya...karena dosennya tidak memberi pilihan yang spesifik sehingga membuat mahasiswa jawab pertanyaan dengan benar(match)...pilihan belakang atau depan memang menjadi pilihan saya untuk mengurangi probabilita kesalahan(tidak match) dari 75% ke 50%...karena pertanyan dosen kurang spesifik jadi memberikan peluang mahasiswa untuk menang...
memang ini game theori yang menarik, tapi akan jauh lebih menarik jika dosen memberikan pilihan ban belakang kanan kiri dan ban depan kanan kiri..